Azdan maghrib telah menggema, kuikuti dengan buka puasaku yang kedua harinya. Kegiatan ini kulakuakan untuk mensucikan hati untuk bisa dekat kepada Rabb ku yang dengan Nya ku memohon untuk dibesarkan hati ini dalam menerima keadaan yang tak sedang bersahabat dengan keinginan dan hasratku. Rabb.. mungkin aku tak tau yang kurasakan ini cinta ataukah nafsu. Karena cinta manusia pada manusia lainnya pasti ada nafsu. Hanya benang tipis yang membedakan antara cinta dan nafsu manusia. Hanya cinta pada-Mu lah ku baru bisa mengakui bahwa itulah sebenar-benarnya cinta. Saat ini yang kuharapkan jalan dan cara terbaik untukku dalam menjalani hidup ini. Tak lama kumampu bertahan dengan dunia yang tak lagi bersahabat ini. Mungkin hanya sampai 60-70 tahun ku menjalani kehidupan ini. Waktu yan g sangat singkat dan hanya sekali nyawa ini bersemayam di tubuh ini. Terlepas dari segala sikap skeptic ku pada keberadaanMu, karena ku ingin lebih dalam mengenalmu dan kumasih ingin memiliki Tuhan yang memiliki jiwa dan raga ini. Saat ini jiwa yang sedang hancur ingin menggapai cinta Mu.. merengkuh lautan luas Rahman dan Rahim-Mu. Ku ingin hidupku berarti untuk Mu meskipun tak pernah kepentingan-Mu atas kehinaanku. Rabb.. bimbinglah aku yang pernah khianat padaMu, tak ada tempatku memohon kecuali pada Mu Rabb.. yang Maha Suci.. sucikanlah hati ini dari segala hawa nafsu yang berasal dari Syaithan yang selalu mengikuti setiap langkahku. Rabb… ingin rasanya lepas dari segala urusan manusia. Dan persembahkan diri ini untuk Mu yang Maha Memiliki segala yang ada di alam ini….. 13th of May 2009.. (kumasih hidup)
Malam ini gw bener2 dah menjadi gila. Cant stop thinking of you. Kamu begitu mengisi rellung hati ini. Entah apa yang terjadi pada rasa ini saat gw tau bahwa kau telah berusaha untuk membiarkan cerita kita berlalu. Aku bahagia…, tapi kurasa kehilangan dirimu. Sakit rasanya, seperti yang kau rasakan selama ini. Tidak bisa kupungkiri bahwa aku cemburu, aku iri dengan pacar barumu meskipun kau bilang ia hanya sebagai pelampiasan buatmu. Tapi aku harus bisa merelakan sesuatu yang sudah kumiliki untuk dimiliki oleh orang lain. Ajari aku untuk melakukan hal yang sama seperti yang telah engkau lakukan padaku. Sumpah mati,malam ini aku ga bisa berfikir dengan jerniih. Perasaanku terlalu menguasai diriku. Bahkan untuk memejamkan matapun tak bisa kulakukan meskipun hari sudah lewat tengah malam. Kepalaku mulai pusing, otakku melayang, perutku mulai mual mau muntah rasanya. Asap rokok ini bukan menjadi penyebab utamanya.. tak bisa kuhentikan untuk terus menghisap nikotin yang terkandung didalamnya. Jantungku tak lagi berdegub dengan teratur. Bahkan aku tak peduli dengan keadaan ini. Dunia ini tak lagi ada bagiku. Semuanya terasa hilang begitu saja, iringi kepergian mu untuk kebahagiaanmu. The imagination of you surrounding in my head. Make me cant think even a second… Im tired… 12th of May 2009
Saya mau menulis tentang kesadaran yang berhubungan dengan teman saya bertanya di FB “mengapa kita harus memilih?”. Konsep Humanistik-Eksistensialis tentang kesadaran bahwa manusia memiliki kesadaran untuk menyadari dirinya sendiri. Kesadaran manusia sifatnya unik, artinya kesadaran manusia terdahadap diri bersifar individualis yang berbeda dengan individu lainnya sehingga kesadaran individu yang satu tidak bisa disamakan dengan individu lain. Kesadaran individu ini mendorong seseorang untuk berfikir dan kebebasan memutuskan alternative-alternatif dalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang esensial pada manusia. Para eksistensialis menekankan bahwa setiap kesadaran akan kebebasan mengambil keputusan tetap dalam kerangka tanggung jawab. Kebebasan dan tanggungjawab bisa menimbulkan kecemasan. Kecemasan eksistensialis juga bisa disebabkan oleh kesadaran akan keterbatasan dan atas kemungkian yang tak terhindarkan untuk mati (nonbeing). Kesadaran atas kematian mempunyai arti penting bagi kebebasan kehidupan sekarang. Tujuan terapi eksistensialisme adalah agar klien mengalami keberadaannya secara otentik. Terdapat tiga karakteristik dari keberadaan otentik: 1) menyadari keberadaan sekarang sepenuhnya, 2)memilih bagaimana hidup pada saat sekarang, 3) memikul tanggungjawab untuk memilih. Jadi, klien yang neurotic adalah orang yagn kehilangan rasa ada tujuan terapi adalah membantunya untuk memperoleh dan menemukan kembali keberadaan otentik/kemanusiaan yang hilang. Kesadaran diri Kesadaran diri membedakan manusia dari makhluk tuhan lainnya. Semakin tinggi kesadaran dirinya semakin, semakin ia hidup sebagai pribadi yang berbeda. Dengan demikian meningkatkan kesadaran diri berarti meningkatkan kesanggupan untuk mengalami kehidupan secara penuh sebagai manusia. Kesadaran manusia membukakan beberapa hal: Kita makhluk tuhan yang terbatas Kita memiliki potensi Kita memiliki suatu ukuran pilihan tindakan yang akan diambil Kita pada dasarnya sendirian, tetapi memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain Makna adalah sesuatu yang tidak diperoleh begitu saja melainkan merupakan hasil pencarian Kecemasan eksistesial adalah bagian hidup sebab meningkatnya kesadaran untuk memilih maka mengalami peningkatan tanggungjawab atas konsekuensi memilih Kecemasan timbul dari penerimaan ketidak pastian masa depan
Memiliki buah hati adalah anugrah dari Allah SWT sekaligus mengemban amanah dari-NYA sebagai orang tua pilihan. Rasa tanggung jawab akan amanah inilah yang membuat para orang tua mendidik sekaligus membesarkan anak agar menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Tujuan orang tua yang mulia ini tidak lepas akan ujian, sebagaimana salah satu wali murid kami yang kini anaknya duduk di bangku SMP merasa anaknya mengalami perubahan pada diri anaknya yakni ananda sudah mulai suka berteriak apabila membantah atau tidak sepakat dengan saya, ananda malah dengar-dengar mengumpat atau berkata tidak sopan pendek kata ustadz anak saya sepertinya sudah menjadi ”pemberontak.” Kenapa remaja mulai seperti ini? Kejadian ini mungkin tidak saja dialami oleh pasangan orang tua ini saja bisa jadi terjadi pada orang tua lain yang kini tengah memiliki anak remaja.
Menurut Harlock, masa remaja dianggap sebagai masa ”badai dan tekanan” dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Perubahan remaja yang demikian ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
Pengaruh kondisi sosial baru yang remaja hadapi memberi pengaruh besar sebagai konsekwensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru. Oleh karena itu sering kali emosi remaja bersifat meledak-ledak, tidak terkendali dan tampak irasional.
Masa irasional. Remaja memandang kehidupan dari kacamata dirinya, ia melihat dirinya dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan bukan apa adanya.
Emosi yang belum matang sebagai bagian dari transisi perubahan dari masa kanak-kanak dan puber. Perubahan fisik yang cepat saat puber seperti tumbuhnya jerawat, membesarnya bagian tubuh tertentu kadang kurang disikapi positif oleh remaja dengan menganggap dirinya tidak sesuai dengan standar budaya yang berlaku sehingga menjadi sumber kegelisahan
Mencari identitas. Kuatnya pengaruh kelompok sebaya pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku lebih besar daipada pengaruh keluarga. Misalnya mereka terbiasa berbicara keras agar dapat brpeluang lebih besar diakui sebagai bagian kelompoknya.
Pada hakekatnya sikap memberontak remaja jika tidak sesuai dengan norma adalah salah maka harus kita luruskan bersama. Untuk itu perlu disadari dalam proses mengarahkan ananda perlu mempertimbangkan proses tumbuh kembangnya sebagai berikut:
Proses penataan nilai sosial baru, artinya remaja mulai memilih teman sebaya berdasarkan minat dan nilai-nilai yang sama yang dapat saling mengerti dan membuat mereka nyaman kepadanya ia dapat mempercayakan masalah-masalah yang tidak dapat dibicarakan dengan orang tua atau guru.
Proses kematangan berfikir. Remaja belajar bagaimana mensikapi dirinya, dengan bertambahnya pengalaman pribadi dan pengalaman sosial dan meningkatnya kemampuan berfikir rasional, mereka akan mensikapi kehidupan ini lebih realistik.
Perubahan relegius, maksudnya banyak anak mulai mempertanyakan konsep dan keyakinan baik itu agama atau norma-norma yang berlaku di masyarakat saat kanak-kanak, mereka mulai belajar memahami hakekat agama itu.
Agar menjadi remaja yang sholeh maka perlu membumikan nilai-nilai kesholehan.. Maka sebagai orang tua tips yang dapat dilakukan agar proses perubahan ini adalah :
Agar lebih rasional, dampingi mereka dengan dialog dengan memberikan wawasan pengetahuan dan sosial agar mereka mempunyai banyak alternatif-alternatif pilihan sehingga proses kedewasaan berfikir menjadi lebih cepat.
Mengasuh secara positif tidak menghukum, tetapi menyesuaikan (mengurangi) hak istimewa anak bila perlu. Walaupun anak mungkin menentang peraturan ini, sebagian dirinya bersyukur bahwa orang tua mereka masih bertanggung jawab atas dirinya, setelah remaja terbukti dapat dipercaya hendaknya diberi kepercayaan lebih besar.
Untuk belajar mengekspresikan sopan, remaja hanya perlu kembali ke dalam kendali orangtunya, kalau diberi waktu menyendiri (misal 2 jam jangan terlalu lama), ia akan mempunyai kesempatan berfikir untuk merasa bahwa ia sedang dibimbimbing orangtuanya.
Sempatkan berkomunikasi dengan mereka sekaligus memberikan nasehat bila perlu, nabipun pernah memberikan nasehat Umar bin Abu Salamah saat kecil ketika ia hendak makan padahal ia dipangku beliau. Sabdanya,”Hai anak muda, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang ada didekatmu” (HR. Ahmad)
Memberikan tauladan dari semua sikap, cara Nabi Muhammad SAW dalam mensholehkan umat terbukti efektif lewat tauladan di setiap aspek kehidupan melalui perangainya. Menurut Jhon Gray, anak berumur berapapun belajar paling banyak dengan bersikap kooperatif dan meniru.
Masa remaja adalah masa yang tidak mempunyai tempat yang jelas. Ia tidak termasuk pada golongan anak, tetapi ia tidak termasuk pada golongan dewasa. Remaja ada diantara masa anak-anak dan masa dewasa sehingga masa ini sering pula disebut pula dengan masa peralihan pada proses perkembangan dan pematangan pribadi secara individu dan sosial. Banyak perubahan yang terjadi secara signifikan secara fisik dan psikis sehingga berimplikasi pada proses perkembangan psikososial anak.
Masa remaja di mulai sejak usia 12 tahun untuk laki-laki, sedangkan untuk remaja wanita beberapa saat lebih awal, dan masa ini disebut dengan masa remaja awal. Pada usia ini terjadi peningkatan hormon kelamin (gonadotrop) yaitu hormon testoteron pada anak laki-laki dan hormon oestrogen pada anak perempuan. Peningkatan hormon ini mempengaruhi terjadinya menarche (permulaan haid) dan ejakulasi (“mimpi basah”) yang kemudian disebut dengan masa pubertas.
Selain itu hormon gonadotrop juga mempengaruhi terjadinya percepatan pertumbuhan fisik pada anak.Pertumbuhan anggota-anggota badan lebih cepat dari pada badannya, sehingga sementara waktu remaja mempunyai proporsi tubuh yang tidak seimbang. Tangan dan kakinya lebih panjang dalam perbandingan dengan badannya. Begitu pula remaja perempuan terjadi penambahan jaringan lemak pada bagian lengan atas, paha, pantat dan dada. Selain itu perubahan lain juga menandai masa pubertas adalah, suara berubah menjadi besar, tumbuh kumis dan janggut pada anak laki-laki.
Pertumbuhan fisik yang cepat dan perkembangan seksual pada remaja awal menyebabkan tanggapan masyarakat yang berbeda dari sebelumnya. Lingkungan mengharapkan mereka mampu melaksanakan tanggung jawab sebagai orang dewasa, namun karena pertumbuhan fisik yang cepat tidak diikuti oleh kematangan psikis sering mengakibatkan ramaja merasa tidak mampu memenuhi tuntutan dan menyebabkan berbagai frustasi. Perubahan yang sangat signifikan ini seringkali menyebabkan kebingunan, ketakutan dan frustasi pada pada remaja, sehingga peran orang dewasa (orang tua atau guru) untuk memberikan bimbingan dan pengertian dengan bijak akan sangat membantu untuk mengatasi kebingungan, ketakutan dan frustasi yang disebabkan oleh perubahan tersebut.
Perkembangan pada remaja awal dengan ciri-ciri yang telah disebutkan sebelumnya mempunyai implikasi pada perkembangan psikis anak terutama pada perkembangan sosial. Ada berbagai macam persoalan yang terjadi pada remaja awal seiring dengan perubahan fisik yang telah ia capai.
Permasalahan mandiri dan krisis identitas
Permasalah ini sesungguhnya terjadi disepanjang usia remaja, Erikson menyebut hal ini dengan prosesmencari identitas ego atau biasa disebut “Krisis Identitas”.Pada awal masa ini terjadi pergesaran dari orang tua menuju teman sebaya. Kematangan fisik mendorong untuk mampu mandiri dan meninggalkan dominasi orang tua. Namun secara psikis remaja masih sangat tergantung dengan orang tua terutama dalam mengambil keputusan, juga secara ekonomi mereka masih belum bisa mencari nafkah sendiri dan harus bergantung pada orang tua, maka remaja tidak mampu untuk mandiri seutuhnya.
Kemandirian secara fisik memacu remaja untuk beraktifitas dan menggunakan seluruh potensi fisik dan seksual mereka dan bebas dari segala nilai. Namun ada batasan-batasan (norma/adat/hukum agama dan pemerintah) yang tidak bisa mereka lewati dalam menggunakan potensi fisik dan seksual, dan banyak dari batasan-batasan tersebut yang tidak bisa mereka fahami dan dianggap sebagai pembatas yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Hal ini menimbulkan rasa termarginalkan dari orang dewasa dan terdorong untuk mencari teman sebaya yang dianggap senasib dengan mereka untuk saling membantu dan menerima identitas keremajaan mereka. Mereka merasa bahwa dengan teman sebaya mereka mendapatkan penghargaan yang lebih dibandingkan penghargaan orang dewasa atau orang tua terhadap mereka. Maka peran teman sebaya menjadi peran yang sangat penting dan sangat berpengaruh bagi perkembangan menuju kedewasaan psikologis seorang remaja.
Konformitas kelompok remaja
Persoalan remaja yang bergerak menuju teman sebaya dipandang sebagai upaya penemuan identitas/jati diri mereka dan sebagai pernyataan emansipasi sosial mereka; yaitu cenderung membentuk suatu kelompok dalam bidang tertentu. Pada pihak lain kelompok remaja akan menambah kohesifitas antar anggota kelompok seiring dengan frekuensi pertemuan mereka.
Dalam berkelompok remaja cenderung memiliki kohesifitas yang tinggi dan dalam keadaan seperti ini akan berkembang iklim penciptaan norma-norma kelompok yang mereka buat sendiri yang sesuai dengan keinginan mereka. Apabila norma-norma yang terbentuk dalam kelompok tidak bertentangan dengan norma yang telah terbentuk dalam keluarga sebelumnya, maka hal ini tidak menjadi masalah. Namun bila norma kelompok bertentangan dengan norma keluarga, maka hal ini yang akan menjadi masalah. Sebab dalam kelompok yang mempunyai kohesifitas yang tinggi tidak akan memberikan toleransi pada salah satu anggota kelompok yang mempunyai pandangan yang berbeda. Hal ini akan menyebabkan terhambatnya pengembangan identitas pribadi yang lebih lanjut. Suatu kelompok remaja seharusnya mampu untuk mengarahkan individu pada pengembagan diri, justru menjadi penghambat bagi pengembagan emansipasi individu.
Salah satu ciri lain dari kelompok remaja awal adalah kelompok ini masih tunduk pada kelompok yang lebih berkuasa, seperti lembaga pendidikan, pemerintahan. Dalam hal ini peran sekolah sebagai lembaga pendidikan dan pemerintah diharapkan mampu memberi perhatian pada kelompok remaja dan membantu mereka untuk mampu membentuk norma kelompok yang selaras dengan agama dan hukum formal.
Dua jenis permasalahanyang telah dibahas dengan singkat diatas bisa kita jadikan sebagai acuan dalam upaya memahami permasalahan remaja yang timbul. Banyak anak permasalahan yang muncul dari 2 jenis permasalahan diatas yaitu; kemandirian dan krisis identitas, konformitas kelompok remaja, diantaranya, intensitas dalam berteman meningkat, suka meniru gaya teman, terlalu percaya diri dan emosi yang tak terkontrol dan masih banyak permasalahan lainnya.
Perkembangan remaja selayaknya menjadi tanggung jawab bersama; orang tua, lembaga pendidikan, lingkungan dan pemerintah. Dalam Bryn (1985) Donald Winnicott menyebutkan berbagai upaya dalam membantu perkembangan anak remaja kita, sebagai berikut:
1.Memenuhi kebutuhan jasmani
2.Memberikan ikatan dan hubungan emosi
3.Memberi suatu landasan yang kokoh (lingkungan rumah dan hubungan keluarga yang asri)
4.Membimbing mengendalikan perilaku
5.Mengajarkan cara berkomunikasi
6.Memberikan berbagai pengalaman hidup yang normal
7.Membantu anak menjadi bagian anggota keluarga, dan
8.Memberikan role model (suri tauladan) pada anak.
Selain orang tua, lingkungan sekolah harus mampu memberikan fasilitas, media, wadah kegiatan yang positif serta bimbingan sosial yang akan sangat membantu remaja menemukan identitas yang baik dan mampu mempertahankannya. Begitu pula pemerintah seyogyanya mendukung berbagai kegiatan remaja dan mengarahkan kearah yang positifserta menjadikan remaja sebagai bagian dari warga negara yang butuh dipenuhi hak sebagai warga negara serta penghargaan yang baik terhadap prestasi remaja.
Dafta Pustaka
Lask, Bryn. 1985. Memahami dan Mengatasi Masalah Anak. Jakarta; Gramedia
Monks.F.J, Dkk.2004. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta; Gajah Mada University Press